Bagaimana Rasanya Keguguran? I

7 komentar

Mungkin jika bisa dirangkum, keguguran itu rasanya sakit dan sedih. Sakit secara fisik dan sedih karena perasaan kehilangan. Dalam kasusku sakit fisik lebih mendominasi dan seandainya tidak kukendalikan itu bisa menimbulkan kesedihan yang mendalam.

Semua berawal dari flek di hari Jumat. Inginnya Sabtu-Minggu itu aku langsung cek ke dokter obgyn langganan. Sayang, beliau tidak praktik pada weekend. Akhirnya pada Senin sore, aku dan suami bisa bertemu dengan beliau.


Hasil USG menunjukkan janin di dalam perutku tidak berkembang sesuai usia kehamilan yang sudah 10 minggu. Seharusnya sudah terdapat jantung dan berdetak pada minggu-minggu ini. Namun, bu dokter tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Beliau masih memberi waktu 2 minggu lagi kepada kami untuk kembali kontrol ke beliau sembari diberi obat penguat kandungan selama itu. Pada awal cek kehamilan sekitar usia janin 5-6 minggu, kabar begini juga sudah kudengar.

Waktu itu yang menjadi masalah adalah lokasi janin yang berada di bagian bawah rahim, terlalu dekat dengan jalan keluar. Dokter bilang waktu itu, semoga dia bisa bertahan. Akhirnya, ia memang bertahan hingga usia 10 minggu.

Selasa aku masuk kerja karena tidak merasa sakit pada pagi harinya. Namun, pada siang hari perasaan mulas seperti ingin datang bulan mendera. Aku rebahan di salah satu ruangan di kantor. Hingga waktu ashar, aku masih merasakan rasa sakit yang sama. Selesai salat, aku rebahan lagi. Padahal saat itu sudah waktunya pulang. Aku mempersilakan teman-teman untuk duluan, kubilang aku minta jemput saja pada suamiku.

Waktu kuhubungi, suami malah langsung menyuruh teman di kantor untuk mengantarku ke IGD. Nanti dia menyusul karena posisinya masih jauh. Beruntung, teman-teman belum pulang dan mereka langsung antusias ketika aku minta antar ke IGD.

Dengan mobil kantor, kami meluncur ke rumah sakit. Ternyata di sana, adikku dan istrinya sudah menunggu. Aku memang menghubungi dia ketika kesakitan di kantor tadi dan posisinya pas lagi di dekat-dekat rumah sakit.

Saat itulah puncak rasa sakitnya terasa. Tubuhku panas dingin dan seperti kekurangan darah, kulitku pucat. Sakitnya terasa di bagian bawah perut. Aku tidak yakin, rasa sakit itu apakah alami atau karena campur tangan perawat yang saat itu langsung sigap melakukan prosedur tertentu untuk mengetahui kondisi dalam rahimku. Aku sempat berteriak saat prosedur ini dilakukan dan membuat perawat yang menanganiku marah-marah. Ya gimana, sakit banget itu.

Oya, di tengah deraan rasa sakit aku juga masih harus menjawab pertanyaan dari para perawat yang mirip interogasi itu. Aku menjawab dengan anggukan atau gelengan, dan dengan lemah bersuara jika terpaksa. Aku sama sekali tidak membawa berkas kesehatan apapun. Siapa juga yang berencana masuk IGD kan.

Tak banyak yang kuingat, tapi di dalam perasaan tidak nyaman dan nyeri aku tahu beberapa bagian tubuhku ditusuk untuk diambil darahnya. Kelak aku tahu, jarum suntik yang ditusuk berkali-kali itu karena ada beberapa bagian yang tidak bisa mengeluarkan darah.

Ketika keluar dari rumah sakit aku juga baru menyadari ada lingkaran di lengan kanan bagian dalam. Ketika kutanyakan pada salah satu perawat, mungkin itu untuk uji alergi antibiotik katanya. Aku baru ingat pernah belajar juga dulu waktu praktikum mikrobiologi. Ujinya pakai lingkaran-lingkaran begini juga.


Contoh urinku juga diambil karena di akhir masa perawatan IGD aku ingat perawat bilang kalau HCG-nya masih positif. Dan untuk mengembalikan kondisi normal tubuhku, aku diinfus. Aku lupa, setidaknya ada 2-3 kantong infus yang dialirkan ke dalam tubuhku selama di IGD.

Yang cukup sulit dideteksi adalah tekanan darahku. Karena tidak dapat diukur dengan peralatan sederhana, maka tubuhku pun dipasangi kabel-kabel pendeteksi denyut nadi. Aku tidak tahu nama alatnya, tapi yang jelas dia berbunyi bip-bip sesuai denyut nadiku. Aku disuruh tenang dan tidak banyak gerak karena bunyinya akan semakin cepat jika aku bergerak sedikit saja.

Prosedur ini memakan waktu cukup lama, aku sempat tidur berkali-kali sebelum alatnya dilepas. Mungkin sekitar 2 jam. Selama itu pula aku menahan perasaan sakit  seperti ingin buang air kecil dan air besar. Berkatnya aku dipasangi kateter.

Setiap kali aku menggumam ingin pipis, perawat bilang aku sudah pipis karena kantongnya sudah berisi. Tetap saja tidak terasa lega, mungkin karena semua darah yang luruh di rahimku belum keluar semuanya. Seingatku karena aku mengeluh sakit akhirnya aku disuntikkan obat penahan rasa sakit sehingga sakitnya berkurang. Sejak itulah aku mulai merasa lega.

Observasi Selama Terbaring
Selama terbaring lemas di ruang PONEK (Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergency Komprehensif), aku mendengar gelak tawa dan pembicaraan dari perawat yang sedang berjaga di sana. Tema utama yang sedang mereka bicarakan adalah acara makan-makan yang akan diadakan oleh salah satu di antara mereka. Intinya sedang syukuran apa gitu makanya berencana ingin mentraktir teman-temannya.

Dari sisi sebagai pasien yang tidak berdaya, gelak tawa dan suara obrolan mereka yang sama sekali tidak susah payah mereka kecilkan volumenya itu terasa sedikit mengganggu. Pertama, berisik. Kamu boleh tanya siapa saja, saat sedang sakit tentunya ingin berada di tempat yang tenang.

Kedua, (aku belum menemukan kata yang lebih tepat dari ini) minimnya tenggang rasa. Bayangkan ketika seseorang di dekatmu kesakitan tapi kamu malah dengan senang hati bercanda. Jika itu adalah praktikum untuk pelajaran PPKn, maka kupastikan kamu akan mendapat nilai merah.

Lagu-lagu yang diputar di ruangan itu adalah lagu-lagu pop Indonesia yang tidak terlalu terkenal. Apa mungkin lagu zaman dulu ya. Tapi untunglah masih easy listening, bukan lagu dangdut atau rock gitu. Sehingga tidak masalah bagiku yang masih bisa menikmati iramanya.

Cukup lama kemudian datang pasien di sebelahku. Sepertinya usia kehamilannya mirip denganku, tapi kasusnya dia kekurangan cairan karena selama hamil muda dia selalu muntah dan tidak bisa makan. Morning sick-nya lebih parah dari aku, tapi aku berharap semoga bayinya baik-baik saja. Meski aku sedikit ngilu juga sih mendengar penjelasan dari dokter atau perawat tentang efek dan tindakan yang akan dilakukan. Telingaku sesehat itu memang, masih bisa observasi meski tubuhku tergeletak tak berdaya.

Ketika mama datang, dia langsung menjerit karena melihat ada banyak darah yang berceceran di bawah ranjang yang kutempati. Dia memang agak takut melihat darah. Sayang, petugas kebersihan tidak bisa langsung datang untuk membersihkannya. Yang ada si perawat langsung melaporkan kelakuanku saat diberi tindakan medis.

“Dia teriak-teriak terus dan tidak bisa diam, Bu. Lihat, rok putih saya terkena cipratan darahnya.”

Ibuku tersenyum dan malah menambahkan, “Dia memang jarang merasakan sakit, makanya nggak bisa menahan.”

Kalau aku nggak bisa tahan, hari Jumat itu juga aku bakal langsung ke IGD, omelku dalam hati. Tapi ya memang ga berasa sakit sih, hanya saja darah yang keluar lebih sedikit daripada saat datang bulan.


Itu juga yang menjadi penyesalan si ibu perawat, kenapa gak dari flek pertama kamu datang ke sini katanya. Terus melihat aku pakai bau kerja, omelannya bertambah lagi. Masyaallah, tekanan lahir batin begini pasien dapat perawat galak seperti ini.

Sekitar jam 8 malam, aku kemudian dipindahkan ke kamar inap. Tepatnya di ruang nifas, iya keguguran disamakan dengan fase nifas setelah melahirkan. Saat itulah si perawat bilang, barelaan. Seketika, rasa kesalku hlang.

Eh ketika aku ngobrol dengan teman-teman di kantor yang mengantarku ke IGD, ternyata mereka jengkel dengan perawat yang sama. Haha.

To be continued.
Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

7 komentar

  1. Kalau mendengar soal keguguran atau janin tidak berkembang, suka ikutan sedih. Saya pernah menunggui kakak perempuan saya yang waktu itu janinnya meninggal di dalam. Padahal usia kandungan sudah enam bulan. Repotnya minta ampun dan kadang kesel dengan banyak orang. Bukan apa-apa, karena faktor tidak tahu, saya kerap jadi sok tau. Saya pernah agak kesel ke perawat karena kakak saya kelamaan diinduksi supaya janin tadi keluar. Saya sampai gemas, apa tidak bisa dioperasi saja. Dan ternyata prosedur soal beginian mereka lebih tahu.

    Karena saya kerja di rumah sakit juga walau di bagian adminnya, selalu ada saja perawat yang penampakannya seperti peran antagonis. Bikin angker, hehe

    BalasHapus
  2. Semoga cepat diberikan ganti kak, jangan sedih berlaru larut, Anak adalah titipan :)

    BalasHapus
  3. Ya Allah kakak...
    Allah lebih sayang dia, biar dia jemput kedua orang tuanya di surga kelak 😘
    Semoga Allah segerakan penggantinya ya kak.. #pelukkk

    BalasHapus
  4. umurnya berapa? kehamilan yg ke berapa? ikutan cemas aku mah kalo baca begini, padahal pengin hamil lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. 10 minggu Kak. Kehamilan saya yg pertama ini.

      Hapus
  5. Ya Allah, sedih bacanya, semoga cepat pulih, sayangku, sehat selalu..peluuuk..

    BalasHapus
  6. Yang sabar ya Mbak, semoga setelah ini Allah mudahkan Mbak dan suami dapat keturunan. Hmm, kontrol ke dokter memang harus rutin ya kalau hamil, saya jadi belajar bagaimana nanti jika istri juga hamil. Cuma sampai sekarang belum dikasih rezeki.

    BalasHapus

Posting Komentar