Wednesday, November 7, 2018

[Fiksi] Suatu Sore di Stasiun

"Kubilang kan gak perlu nganter sampai sini." Aku merengut kepada lelaki yang baru duduk di sampingku.

"Ya siapa tahu kamu nggak sanggup jalan sampai naik kereta kan," katanya sambil menyengir.

"Sialan," kataku sambil menonjok bahunya.

"Mau?" tanyanya sambil menyodorkan kacang yang baru saja dibelinya dari pedagang asongan yang baru saja lewat di depan deretan kursi kami.

http://daenggassing.com

Aku menggeleng.

"Kenapa, masih sedih?" ujarnya menyelidik wajahku.

Aku menggeleng, lalu mengangguk. "Sepertinya masih," jawabku sambil terkekeh.

Dia tersenyum. "Nangis aja lagi."

"Enggaklah, udah puas tadi malam." Tidak mudah mengakui bahwa aku secengeng itu ketika dihadapkan dengan kegagalan. Tapi padanya, aku membuang rasa maluku karena terlihat lemah. Aku butuh berbagi.

Dia tertawa. "Aku saja sudah moving on, masih banyak kesempatan yang lain, Mey."

"Kamu kan awalnya memang enggak niat ke sana." Aku mendengus.

"Aku usaha juga kali, buktinya lolos sampai ke tahap ini." katanya sambil menggaruk rambut ikalnya.

Aku tahu dia jenius. Nggak niat ikut tes pun dia bisa lulus, apalagi kalau dia benar-benar berusaha. Aku memutar bola mata.

"Seandainya kamu yang lolos, aku nggak akan sesedih ini," kataku.

"Tapi jauh lebih sedih?" tanyanya jahil.

Aku kembali menonjok bahunya. 

"Ih, serius! Jujur aja aku masih belum terima sih. Selisih berapa poin doang kan ya."

"Lapang dada, Mey. Ada tempat untuk setiap orang kok di dunia ini. Mungkin tempat kita bukan di sana."

"Tapi aku mau di sana!" Aku sadar sebenarnya ngeyel tidak memberikan solusi, hanya saja saat ini aku hanya ingin menumpahkan kekesalan pada orang yang tahu persis kondisiku.

"Kamu sudah punya kerjaan potensial sekarang, meski mungkin bukan yang paling kamu inginkan." Adit menghirup minuman bersodanya.

"Bandingkan dengan orang yang belum punya pekerjaan dan tidak lulus tes. Mereka pasti jauh lebih down daripada kita."

"Panjang bener sih ceramahnya," aku menyela sebelum ia melanjutkan lagi.

Ia menatapku agak lama. "Kamu emang Ratu Denial."

"Iya, iya, ajari aku terus bersyukur Dit."

Dia mengangguk, lalu melihat arlojinya. "Keretanya lima menit lagi sampai."

"Duh, aku jadi nggak pengen pulang," keluhku.

"Kenapa, nggak mau pisah dari aku?" tanyanya jahil.

Aku menggeleng. "Aku malas kembali ke rutinitas dengan kondisi masih patah hati."

"Duileh, bahasanya. Galau emang bikin orang jadi lebay ya."

"Bayangin aja nih, aku sudah berangan-angan bisa resign dari sana. Ternyata tempatku akan meloncat belum siap menerimaku. Sedih rasanya. Kamu emangnya bisa langsung kerja dengan kondisi normal?"

"Sudah dong, hari ini saja aku kembali beraktivitas seperti biasa di kantor."

"Bisa-bisanya," kataku ngedumel.

"Lama-lama bersedih juga buat apa," katanya ringan.

Aku mengakuinya dalam hati.  Suara kereta melaju dari kejauhan menyadarkanku dari lamunan singkat. Aku berdiri, Adit mengikuti.

"Aku pulang," kataku sambil menunjuk kereta yang mulai berhenti.

Adit mengangguk. "Take care. Jangan lama-lama sedihnya."

"Nggak janji," jawabku sambil memeletkan lidah dan melangkah menuju pintu kereta terdekat.

Adit melambai dan aku membalasnya ketika kereta mulai melaju menjauhinya. Selamat datang, dunia nyata. Aku siap bertarung kembali.[]

Artikel Terkait

2 komentar:

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Ruli Retno Mawarni said...

Bener tu, lama-lama bersedih buat apa. Tapi tetap aja nyeaek. Hahaha

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates