Sunday, November 18, 2018

[Fiksi] Merasa Nyaman

"Mey, kamu pernah jatuh cinta?" Itu pertanyaan yang Adit tanyakan padaku saat kami menunggu sebuah film diputar di bioskop.

Aku mengernyitkan kening, memandang minuman dan popcorn di tangannya. Bisa-bisa ada yang beracun di sana sehingga Adit melayangkan pertanyaan seaneh itu. "Kamu sehat?"

Adit mengangguk, tapi masih gigih bertanya hal yang sama. "Pernah nggak?"

"Pernah lah," jawabku enteng.

"Kapan? Sama siapa?" cecarnya.



"Kakak kelas waktu SMP dulu," jawabku singkat sambil menyelidiki wajahnya. Mengira-ngira kemana arah pertanyaannya.

"Oh." Adit mengangguk. Responnya segitu aja?

"Woy, kamu kenapa?" Kuguncang bahunya. "Lagi jatuh cinta?" Prediksi cepat saja.

Tak kusangka, dia mengangguk. Tahun lalu, dia pernah dikejar-kejar seorang adik tingkat. Mungkin kah Adit insyaf dari sifat cueknya dan mulai membalas perasaan si adik tingkat? Tapi aku males kepo, lebih tepatnya aku ingin menjaga privasi. Kalau dia mau cerita lebih kuterima, kalau enggak ya sudah.

"Aku merasa nyaman dengan dia," kata Adit melanjutkan anggukannya. Nah kan, dia cerita sendiri tanpa ditanya juga.

"Ya bagus dong, kamu punya someone special yang bisa jadi semangat kamu dalam menjalani hari-hari," jawabku asal.

"Tapi aku enggak tahu apakah dia juga nyaman bersamaku," kilah Adit serius.

"Tinggal tanyain keles, Dit," aku melambaikan tangan ke arah wajahnya yang tidak fokus.

Adit menggeleng. "Aku takut jawabannya nggak seperti yang kuharapkan."

Aku mencebik. "Dih, jatuh cinta memang membuat orang galau yak."

"Kalau aku nyatain, gimana menurutmu?" Adit mengabaikan nyinyiranku.

"Dipikir-pikir kalau sudah merasa nyaman sebagai teman kenapa harus menjadi lebih. Nyaman itu nomor satu." Aku memberi nasihat seolah-olah akulah pakar asmara.

Adit seolah terpukau. Dia memandangku lama. Kalimatku barusan rupanya seperti mantra sihir terampuh yang pernah dia dengar. Selang beberapa waktu kemudian, ia pun mengangguk-angguk.

"Jenius!" katanya sambil menjentikkan jari. Kini aku yang terheran-heran dengan ulahnya.

Aku sudah akan bertanya apa maksudnya, tapi pengumuman dari suara tanpa wujud bahwa film yang akan kami tonton sudah siap diputar membuyarkanku. Adit sendiri sudah beranjak dan mengajakku masuk ke teater 1 seperti yang tertera di tiket kami. Dih, aku harus menanyakannya lain kali.[]

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates