Wednesday, November 28, 2018

[Fiksi] Melarikan Diri

Kita hanyalah dua orang asing.
Bertemu ketika kereta akan berangkat.
Kita bersepakat.
Melarikan diri ke ceruk gua.
Mendaki bukit, mengakrabkan diri dengan pohon-pohon.
Ke kaki langit.
Berenang di antara gugusan awan.
Berselancar dari puncak samudera.

Kita yang sama-sama penat,
Terkapar bahagia di bebatuan cadas.
Tidak ada ruang berpendingin.
Tapi angin laut menari bersama senja.
Tak ada gedung-gedung.
Dinding batu melindungi kita dari deburan ombak.

Cerita tentang hiruk pikuk kota.
Deru debu dan sedu kelu,
Menjadi napas kita di sana.
Hari ini kita banjir oksigen.
Beramai-ramai masuk paru-paru.

Kita hanyalah dua orang asing.
Bertemu di pelarian mencari merdeka.
Bertukar kisah, menyisiri makna.
Bisakah kita hidup begini selamanya?

Berlari dari satu trotoar ke trotoar lain.
Bersenandung di rapat-rapat.
Berhujan rutinitas.
Demam informasi dan riuh rendah kabar berita.
Setiap hari, aku bermimpi berlari ke matahari.
Bernyanyi di ujung pelangi.

Di tempat asing, aku bertemu denganmu.
Menggenggam jiwa yang sama.
Bisakah kita bertukar nama.
Untuk sekadar memanggil ketika lelah kembali meraja.
Lalu kembali bermufakat.
Melarikan diri.

#prosaliris

Artikel Terkait

4 komentar:

bettyclever said...

Ini puisi bukan ya?

Rindang Yuliani said...

Maunya prosa liris kak. Tapi bentuknya mirip puisi. Hehe.

Lia Anelia said...

Orang kota merindu kehidupan desa, Orang desa berlomba mencari penghidupan di kota. 😁

Winarto Sabdo said...

mantaf...

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates