Thursday, November 15, 2018

[Fiksi] Date Chronicle

"Masih marah?" selidik Ryan ke wajah istrinya.

Dwita diam saja. Tentu saja ia masih kesal. Kejadian tadi masih membekas di ingatannya.

"Aku kan sudah minta maaf, please berhenti marahnya." Ryan menggenggam tangan Dwita di sampingnya.

Meski tak menolak genggaman Ryan, Dwita masih bergeming. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Ryan merusak acara dating mereka hanya karena menonton live pertandingan sepak bola.

gogirlmagz.com

Ryan menghela napas berat. Pikirannya kacau. Masih untung ia bisa berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Dwita jarang ngambek, tapi sekali terjadi dia sanggup enggak ngobrol satu hari penuh. Itu sangat tidak baik bagi hubungan mereka.

"Aku ngaku salah, nanti gak bakal lagi. Oke?" Ryan masih berusaha dengan sisa-sisa kesabarannya.

"Nanti kapan, Mas? Malam ini tuh udah kita rencanain sejak satu minggu yang lalu. Saat kita tidak sama-sama sibuk. Dan kamu merusaknya begitu saja." Dwita akhirnya berbicara dengan emosi yang tak terbendung.

Ryan menggaruk kepalanya. Menurutnya, yang ia lakukan hanyalah hal sepele. Mengapa Dwita memperpanjang masalah sih? Duh, perempuan.

"Kamu kan tinggal bilang kalau nggak suka aku nonton. Selesai, Sayang."

Dwita memutar bola matanya ke atas. Ryan kadang menyepelekan hal yang tidak sepele bagi Dwita. "Aku tuh sudah bilang tadi, dan kamu jawab sebentar lagi sambil terus menonton." Dwita menatap Ryan dengan pandangan jengkel.

Tadi itu memang ada pertandingan dari klub sepak bola favorit Ryan. Saat Dwita memintanya berhenti, pertandingan sedang seru-serunya. Ah, cewek mana mengerti ya.

"Minggu depan ya, kita ke sana lagi?" Ryan mencoba mencari solusi.

Dwita menggeleng. "Enggak mau, ke sana bikin aku teringat kejadian menjengkelkan malam ini."

"Katanya mau foto-foto di sana." Dwita tadi sempat bilang kalau interior kafenya bagus.

"Dan kamu sama sekali tak bisa dimintai bantuan untuk memotret," dengus Dwita.

"Pas aku nawarin lagi kamu bilang gak mau?" Ryan menatap wajah Dwita dengan heran sambil memutar setir ke kanan, masuk ke dalam kompleks perumahan mereka.

"Ih, itu sudah banyak orang yang datang. Malu lah. Waktu masih sepi, kamunya cuek banget," Dwita menjawab dengan berapi-api.

Ryan menghela napas. Kalau diterusin, perdebatan tidak bakal selesai hingga pagi. Dwita sekeukeh itu dengan pendapat dan perasaannya. Tapi ia masih senang Dwita mau mengomel, kalau Dwita marah dalam diam itu jauh lebih bahaya.

"Oke, aku salah. Marah aja dulu, besok sudah baikan ya?" kata Ryan sambil mengusap kepala Dwita dari samping.

Dwita diam saja.

"Yang penting, sekarang kita turun dulu. Sudah sampai." Ryan mematikan mesin mobil yang sudah terparkir di halaman rumah mereka.[]

Artikel Terkait

5 komentar:

Nurul Hidayah said...

Masih ngambek ya,Dwita

Yuliani Djaya said...

KEREN

Wiwid Nurwidayati said...

memang gitu ya, lelaki klo sudah suka, konsentrasinya penuh
apalagi bola
ngeselin memang

Boedy San said...

Semangat kakak

Nining Purwanti said...

Hahaaa ... Begitulah wanita. Bagus mbak.

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates