Sunday, November 11, 2018

[Fiksi] Bianglala

Lima tahun yang lalu.

"Kamu kenapa sih, ngotot banget pengen naik bianglala?" Adit menatapku jengkel sambil berpegangan erat pada kedua ujung bangku di kotak yang menyerupai kerangkeng itu.

Aku tersenyum, tahu dia sedang melawan fobia ketinggiannya. "Aku ingin mengenang indahnya masa kecil. Dulu, bersama orang tuaku aku sering naik bianglala."



"Em, maaf membuatmu sedih. Aku tidak tahu bianglala ternyata punya arti sentimen bagimu." Adit terlihat tidak enak dan tatapannya mulai melunak.

Aku menggeleng. "Aku tidak sedih kok, aku malah senang sekali. Sudah lama sejak terakhir aku naik bianglala."

"Dan kamu pasti tambah senang karena bisa menyeretku naik ke sangkr burung ini," kata Adit dengan nada dibuat-buat jengkel.

Aku tertawa. "Kamu benar sekali, puas rasanya melihat seorang penderita fobia ketinggian berada di ketinggian 100 meter dari permukaan tanah."

Adit tambah manyun dan tiba-tiba wajahnya pias. Putaran bianglala terhenti, kereta kami tepat berada di puncak ketinggian. Wajahnya berkeringat.

"Ada apa?" tanyanya kelu.

Aku melongok ke bawah. "Tidak ada apa-apa, hanya ada yang baru naik atau mungkin baru turun. Aku tidak bisa melihat dengan jelas," jawabku.

Adit terlihat lucu sekali saat ini. Meskipun wajahnya sudah lebih lega daripada ketika di awal kereta berhenti, tapi tetap saja ia masih berpegangan kuat dengan tangan yang agak berkeringat.

Aku ingin tertawa terbahak-bahak tapi tak tega mengingat dia berani mengorbankan fobianya demi menuruti bujukanku untuk naik bianglala.

Tidak lama kemudian, bianglala kembali berputar. Adit terlihat jauh lebih lega, aku pura-pura tidak memedulikannya.

"Saat sampai di bawah, kita minta turun saja ya?" katanya memelas.

"Sayang Dit, jatah kita masih satu putaran." Aku tak mau mengalah.

"Kalau aku pingsan, kamu yang bopong ya," ancamnya.

Seolah kamu bisa pingsan saja di depan cewek Dit, kataku dalam hati. Tapi aku cuma mengangguk sambil meletakkan tangan kanan ke pelipis. "Siap!"

Itu lima tahun yang lalu. Ketika kami  semester tujuh dan aku merengek minta ditemani Adit ke pasar malam. Bukan hal yang mudah membujuknya, tapi akhirnya berhasil juga. Bahkan aku mampu memaksanya untuk mengatasi sedikit ketakutannya terhadap ketinggian. Bahkan seorang Adit yang terlihat tidak memiliki masalah pun punya kelemahan.[]

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates