Saturday, November 17, 2018

[Fiksi] Alat Anti Malas Lang Ling Lung

Lang Ling Lung baru saja membuat penemuan baru yaitu sebuah alat anti malas. Paman Gober yang mendengar kabar tersebut langsung ke rumah Lang Ling untuk membelinya. 

“Lang Ling Lung, katanya kamu baru saja menemukan alat anti malas. Aku ingin membelinya, berapa harganya?” tanya Paman Gober tanpa basa-basi.

“Benar, Paman. Sebentar, alat ini masih dalam proses finishing setelah uji coba terakhir kemarin. Besok mungkin sudah bisa dipasang di rumah Paman. Harganya 1500 Dolar Bebek,” jawab Lang Ling Lung panjang lebar.

“Wah, mahal sekali. Tapi, baiklah. Ini uangnya,” kata Paman Gober setelah mengambil segepok uang dari sakunya. “Oya, besok pasang alatnya di gudang uangku saja tidak di rumah.”

“Siap Paman!” kata Lang Ling Lung sambil sibuk memperbaiki beberapa bagian dari sebuah alat.

“Cara kerja alatnya bagaimana?” tanya Paman Gober sambil mendekat ke arah Lang Ling Lung.

“Konsep alatnya menggunakan pemindaian telapak tangan. Kedua tangan harus diletakkan di atas layar ini,” jelas Lang Ling Ling sambil menunjuk bagian yang dimaksud. “Selama 1 menit, alat akan mengirim sinyal untuk menstimulasi telapak tangan agar selalu bergerak. Hal inilah yang akan merangsang semangat rajin kepada orang yang bersangkutan.”

Lang Ling Lung dan Paman Gober
(http://www.cbarks.dk/thesciencetalkother.htm)

“Bagus. Alat ini pasti akan sangat cocok dengan Donal,” kata Paman Gober puas.

Donal Bebek memang bekerja di gudang uang milik Paman Gober. Tapi sifat malasnya yang keterlaluan sering membuat kesal Paman Gober. Dengan adanya alat anti malas dari Lang Ling Ling ini, Paman Gober berharap  Donal bisa bekerja lebih rajin.
**

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali alat anti malas sudah dipasang Lang Ling Lung di dekat pintu masuk gudang uang sesuai perintah Paman Gober. Ketika Donal datang, Paman Gober menyuruhnya untuk memindai kedua telapak tangannya.

“Anggap saja presensi masuk kantor,” kata Paman Gober pada Donal sambil terkekeh. Ia memang sengaja tidak memberi tahu Donal jika itu adalah sebuah alat anti malas.

Donal mengangguk saja dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas layar alat tersebut. Ajaib, setelah itu Donal menjadi lebih rajin. Berkas-berkas keuangan Paman Gober menjadi lebih rapi, ruangan pun lebih bersih. Paman Gober yang seharian itu sengaja berada di gudang uang untuk melihat hasil kerja alat anti malas, menjadi puas.

“Lang Ling Lung memang hebat,” gumamnya.

Hari-hari berikutnya keadaan tersebut terus berulang. Paman Gober pun merasa tenang mempercayakan gudang uang kepada Donal.
**

Dua minggu kemudian, Paman Gober mendapat telepon dari salah seorang nasabah bahwa penjaga gudang uangnya alias Donal kedapatan sedang tidur di jam kerja. Paman Gober berang lalu langsung menuju gudang uangnya.
Sesampainya di sana, terlihat beberapa nasabahnya sedang mengantri dan Donal sedang asyik tidur di meja kerjanya.

“Donal, bangun!” teriak Paman Gober di dekat telinga Donal.

Donal segera tersadar dari tidurnya dan terkejut mendapati Paman Gober yang sudah ada di dekatnya. Belum sempat ia berkata satu patah kata pun, Paman Gober sudah memerintahkannya untuk melayani para nasabah yang sedang mengantri.

Satu jam kemudian, pekerjaan Donal melayani nasabah selesai. Paman Gober menunggunya untuk menuntut penjelasan mengapa ia bisa teledor seperti tadi.

“Dua minggu terakhir aku capek sekali,” keluh Donal. “Selalu ada pekerjaan di gudang uang ini. Tidak ada habis-habisnya.”

“Kamu kan bisa mengerjakannya besok hari,” kata Paman Gober melunak setelah mendengar penjelasan Donal.

“Tapi rasanya tubuhku selalu ingin menyelesaikan seluruh pekerjaan saat itu juga,” kata Donal. “Bahkan rasanya aku tak ingin istirahat.”

Itu pasti karena efek alat anti malas Lang Ling Lung, Paman Gober langsung sadar. “Hari ini kamu memindai tangan ke alat di depan tidak?” tanya Paman Gober pada keponakannya tersebut.

Donal menggeleng. “Aku tidak pulang semalaman karena harus menghitung uang masuk kemarin yang banyak sekali jumlahnya. Karena aku tidak lewat pintu depan, jadi aku malas memindai tangan,” ucapnya jujur.

Oh, jadi karena itu Donal ketiduran hari ini pikir Paman Gober. Ia lalu berkata, “Di sisa hari ini kamu boleh libur. Pulanglah sana!”

“Benar, Paman?” tanya Donal tak percaya.

Paman Gober mengangguk. Ia berpikir keras sambil mengamati Donal yang berjalan keluar dari pintu gudang uang. Ia lalu memutuskan untuk ke rumah Lang Ling Lung.

Rumah Lang Ling Lung (wikipedia.com)

“Ada apa, Paman?” tanya Lang Ling Lung yang sedang berjongkok di antara alat-alat yang bentuknya tidak dimengerti oleh Paman Gober.

Paman Gober lalu menceritakan kasus Donal. Lang Ling Lung segera duduk di kursi tak jauh dari Paman Gober. Ia berpikir sejenak.

“Alat tetaplah sebuah alat,” katanya sambil meneguk air putih. “Otak manusia sebenarnya jauh lebih canggih daripada alat apa pun.”

“Maksudnya?” tanya Paman Gober tertarik.

“Bagaimanapun, seandainya Donal menggunakan otaknya untuk stimulasi menghilangkan rasa malas pasti lebih bagus karena masih ada kendali terhadap tubuh.” Lang Ling Lung memberi jeda pada penjelasannya agar Paman Gober bisa pelan-pelan memahami.

“Lanjutkan,” pinta Paman Gober.

“Sedangkan yang terjadi adalah sikap rajin pada Donal dua minggu terakhir ini distimulasi oleh alat yang tidak bisa dikontrol kuantitasnya. Ia hanya bisa menerjemahkan perintah ‘jangan malas’ dengan aksi ‘terus bekerja’ tanpa merasa perlu istirahat. Kasihan juga sebenarnya Donal.” Lang Ling Lung menghela napas menyadari kekurangan penemuannya.

“Jadi, bagaimana solusi untuk kasus ini?” Paman Gober yang mulai paham ingin semuanya dapat berjalan dengan baik.

“Sebaiknya Paman secara personal memberi pengertian kepada Donal tentang pentingnya mengelola rasa malas,” saran Lang Ling Lung.

“Baiklah, mungkin agak berat tapi setidaknya efek samping seperti tadi tidak terjadi lagi. Lalu, bagaimana dengan alat anti malasnya?” tanya Paman Gober.

“Gunakan saja jika Donal sudah sangat keterlaluan malasnya,” kata Lang Ling Lung sambil terkekeh.

“Tentu saja,” dengus Paman Gober. “Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.”[] 

Artikel Terkait

10 komentar:

Lia Anelia said...

Paman gober 😍😍😍

hai ulya said...

Kok aku jadi kasian sama Donal ya...!
Apapjn itu, memang harus dilakukan dengan kesadaran penuh. Nggak boleh sepenuhnya bergantung pada orang/barang lain.

Farhandika Mursyid said...

Keren sih, akhir-akhir ini, juga aku sering banget malas, efek libur yang terlalu panjang juga sih ini.. hahaha.. coba aku terapkan deh pesan yang diterima.

Lendy Kurnia Reny said...

kangen aku baca cerita Donald Bebek.
Selalu ada hikmah yang bisa diambil dan anak-anak?
Semoga memahami saat membaca komik bahwa jadi orang jangan malas, apalagi jika itu sudah tugasnya.

Jiah said...

Duh, rasa malas emang ada aja. Kita kudu ngelola biar kerja wajar dan malas secukupnya saja

Ruli retno said...

Ah aku kangen banget sama cerita ini. Udah lama gak baca di majalah anak ataupun di tv. Di disney ada donald tapi bukan versi paman gober. Hanya bersama daisy dan mickey mouse

Rani Yulianty said...

Aaah aku sekarang butuh alat antimalas dari Lang Ling Lung, lagi maaalees banget ngeblog, dududu..kirim dong alat antimalasnya

dony prayudi said...

Ya ampun ...majalah donal bebek ini bacaan waktu SD. Suka dibeliin kakek dulu. setiap pulang sekolah pasti nungguin dan dalam 3 jam langsung abis dibaca dan diulang lagi hehehe

Mudrikah Stories said...

awhh.. dulu aku sampai pinjem buka sepupu seri donal bebek. ceritanya ya.lucu dan bisa diperca

erina said...

baca ini, akupun membayangkan komiknya, hahaha

seru seru seru. jadi pengen baca donald bebek lagi kaann, hehhehehe

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates