Friday, October 19, 2018

[Fiksi] Princess 2

Hari ini, aku resmi menjadi objek kegelisahan seorang Princess. Aku tahu dari caranya memegang dan memutar-mutar tubuhku. Setelah menghela napas berat ia berkata, “Kamu enggak bisa begitu, Alfa.”

“Aku harus begini,” jawab Alfa lirih. Sepertinya, aku juga akan menjadi saksi bisu sebuah perpisahan hari ini.

https://medium.com

Raut wajah Princess sudah akan terlihat menangis, ketika Alfa berkata, “Ssst, jangan sedih. Ini untuk kebaikanmu.”

“Kamu enggak tahu apa yang terbaik untukku,” Princess berkata sambil berusaha  mempertahankan intonasi suaranya agar masih terdengar normal.

“Aku tahu dan inilah yang sedang aku lakukan.” Aku mendengar keraguan dari nada suara Alfa. 

“’It’s hurt me,” Princess menggelengkan kepalanya, “and you!”

“Aku enggak bisa egois membawamu pergi dari sini. Menjauhkanmu dari keluarga dan passion mengajarmu itu adalah pilihan terakhir yang akan kulakukan dalam hidup.”

“Tapi aku lebih bahagia jika bisa pergi bersamamu,” Princess tidak menyerah. Aku yakin dia sudah memiliki sifat keras kepala sejak lahir. 

“Princess, dengar, kamu adalah satu-satunya yang orangtua kamu miliki. Mereka akan sangat enggan melepaskan putri tercinta mereka pergi berkeliling dunia bersama orang yang baru mereka kenal kurang dari satu tahun.”

“Alfa, apa kamu mencintaiku?” Princess mengabaikan ‘nasihat’ Alfa, meski ia tahu itu benar.

Alfa bergeming membuat Princess menghela napas.

“Jika tidak, katakan saja. Setidaknya aku tahu alasanmu cukup kuat untuk tidak membawaku ikut serta dalam petualanganmu.”

Alfa menggeleng, “Kamu cukup tahu seberapa besar cintaku.”

“Dan aku mulai tidak yakin, bisa jadi itu pula yang kau katakan pada gadis yang kau temui di setiap tempat yang kau singgahi.”

Alfa mendekatiku, menunjuk ke salah satu titik di tubuhku. Memutarku sedikit, lalu menunjuk ke satu titik lagi. “Aku masih harus ke dua tempat lagi sebelum memutuskan untuk berlabuh selamanya …,” ia meraih tangan Princess, “ke hatimu.”

“Aku tidak menuntutmu untuk berhenti, Alfa. Kamu boleh pergi kemana pun, selamanya, asal aku ikut.” Princess menarik tangannya pelan, bukan karena ia marah, tapi lebih karena ia sungkan dilihat oleh para pengunjung lain ruangan ini.

“Ini tuh daerah konflik, aku enggak mau kamu kenapa-napa kalau ikut aku.”

“Kamu mau aku kenapa-napa sambil nunggu kamu di sini, iya?” tanya Princess sambil mengerling jahil, “Dilamar orang, misalnya.”

“Enggak, aku enggak mau!” Tak bisa diragukan, dari nada suaranya, Alfa sangat tidak ingin hal tersebut terjadi.

Princess tersenyum, ia tahu kali ini ia menang.

“Kalau begitu, Minggu nanti ngobrol sama papa ya? Tenang, aku temenin.”

Alfa mengangguk lambat-lambat sambil menatapku tajam.


To be continued ....

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates