Sunday, September 30, 2018

G30S/PKI: Sejarah Kelam Bangsa Indonesia

Hari ini, 30 September 2018, tepat 58 tahun setelah peristiwa kelam G30SPKI pada tahun 1965. Sebagian warga menaikkan bendera setengah tiang untuk memperingatinya. Aku sendiri menonton film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” hari ini untuk mengenang cerita kelam tersebut. 



Sebelumnya, aku tidak akan pernah mau menonton film ini. Alasan utamanya adalah karena enggan menyaksikan adegan mengerikan saat momen penculikan para jenderal dan perwira TNI-AD. Kali ini aku memberanikan diri untuk menontonnya. Bukan karena penasaran, tapi untuk menambah referensi tentang salah satu fakta kelam bangsa ini.

Pertama-tama, aku akan berkomentar mengenai film besutan sutradara Arifin C. Noer ini terlebih dahulu. Aku setuju jika ada yang mengusulkan untuk membuat ulang film sejarah ini. Bukan karena aku menganggap film yang beredar sekarang jelek, tapi sepertinya perlu untuk memperbaharui kualitas film sesuai perkembangan teknologi zaman sekarang. Apresiasiku terhadap film yang dibuat pada tahun 1984 ini sama sekali tidak berkurang meskipun menginginkan film baru.

Tanpa mengubah isi dengan fakta sejarah, sepertinya jika ada film dengan kualitas teknis yang lebih bagus pasti akan lebih diminati oleh anak muda. Durasi film yang memakan waktu lebih dari 4 jam juga dapat dipastikan membuat mata penonton bosan, mungkin dapat dibagi menjadi dua atau mempercepat bagian yang kurang penting.

Koran PKI

Aku sendiri sama sekali bukan orang yang tertarik dengan sejarah. Apalagi setelah mengetahui bahwa cerita sejarah juga dapat dipelintir demi kepentingan tertentu. Sejak itu aku malas mencari tahu karena hanya akan menemukan beberapa versi tentang suatu kasus. Padahal, sifat sejarah itu tunggal dan nyata. 

Namun, pepatah bahwa “jangan sekali-sekali melupakan sejarah” juga benar adanya. Tidak mungkin ada bangsa yang besar tanpa sejarah perjuangan yang hebat. Dalam tulisan kali ini, aku hanya ingin membagikan pikiran dan perasaanku saja mengenai pengkhianatan PKI terhadap bangsa Indonesia. Jika ada fakta sejarah yang ternyata keliru, silakan dikoreksi. Correct me if I wrong.

PKI ini menurutku ideologi yang gila, bukan sekadar partai. Di mana akal mereka saat bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, mereka malah menusuk negara dari dalam. Ketakutan berlebihan akan pembasmian PKI dari TNI-AD membuat mereka melakukan fitnah terhadap para jenderal disertai aksi militer yang bengis.

Tujuh orang perwira TNI-AD yang menjadi korban keganasan G30S/PKI adalah Letjen. A. Yani, Mayjen. R. Soeprapto, Mayjen. Harjono, Brigjen Soetojo, Brigjen D.I. Pandjaitan, Mayjen. S. Parman, dan Lettu P. A. Tendean. Yang menarik, Lettu P. A. Tendean sebenarnya bukanlah sasaran, tetapi ditangkap saat tentara PKI masuk ke rumah Jenderal A. H. Nasution. Beruntung, Jenderal A. H. Nasution dapat lolos dan menjadi sumber utama sejarah G30S/PKI ini.

Ketujuh perwira TNI-AD yang berhasil diculik kemudian dibawa ke markas PKI untuk disiksa dan dikuburkan dalam satu lubang. Biadab sekali. Sayangnya, di film yang kutonton tidak diperlihatkan bagaimana penumpasan para petinggi PKI seperti D. N. Aidit dan kawan-kawan. Padahal, seperti film pada umumnya aku ingin tokoh antagonis juga mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatan mereka.

Yang perlu digarisbawahi adalah, kekejian mereka bukan hanya terjadi pada tanggal 30 September 1965 itu saja. Jauh sebelumnya, pada tahun 1948 mereka juga sudah melakukan teror keji terhadap para ulama, tentara, dan warga di Madiun yang tidak sepakat dengan ideologi mereka. Gila, memang.

Di balik kewaspadaan kita yang harus ditingkatkan terhadap paham atau kelompok jaringan komunis, kita juga perlu berpikir logis. Jangan sampai ketakutan berlebihan terhadap isu yang belum benar adanya membuat kita tidak objektif dalam menilai sesuatu. Apalagi menjelang tahun politik seperti sekarang ini. Jangan sampai termakan tipuan berita hoax apalagi ikut menyebarkannya. Ada banyak contoh hoax yang disebarkan hanya untuk kepentingan tertentu.

Kebiadaban PKI

Satu yang pasti, PKI tidak akan pernah bisa hidup dengan damai di Indonesia. Akan ada jauh lebih banyak orang yang menentang daripada yang mendukungnya. Tak akan ada orang yang ingin kembali mengulang sejarah kelam bangsa Indonesia dengan menerima kembali kebangkitan PKI di Indonesia.[]

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates