Friday, February 9, 2018

August Story

Di suatu Agustus yang panas kita bertemu
Saat pelipis bermandi keringat
Ketika kaki harus bergerak kompak
Seirama pasukan delapan
Di hari pertama, kedua, hingga sembilan
Kita masih asing
Hari ke sepuluh, kamu mendekat saat istirahat
Dan bertanya mengapa bola mataku berwarna coklat
Aku tertawa
Bingung, apakah seaneh itu punya genetik berbeda
Bagaimana kemudian obrolan kita berubah arah dengan cepat
Itu membingungkan
Dari motivasi mengapa kita ikut pengibar bendera
Sampai di mana kunang-kunang bersembunyi di siang hari



Dialog berlanjut hingga hari H tiba
Kita melakukannya dengan sempurna
Dan berbaur bahagia dengan sesama anggota
Tapi mengapa aku sedikit kecewa
Ternyata aku takut kehilangan kesempatan bertemu denganmu
Aku tak bilang, karena aku pemendam
Tapi ternyata kamu yang katakan
Di akhir acara rekreasi ke sebuah pantai
Apakah ini perpisahan, tanyamu?
Aku mengedikkan bahu

google.com














Waktu berlalu
Aku terlalu takut untuk menyapamu dari jauh
Takut kau mulai lupa atau fokus belajar
Sekolah kita pun tak dekat
Hingga tak ada alasan yang bisa dikarang untuk bersua denganmu

Agustus berikutnya datang tanpa diminta
Pesanmu juga datang tiba-tiba
Mengusulkan kita bertemu
Di tepi lapangan sembari melihat junior sedang berlatih
Rasanya dejavu, kataku
Syukurlah kau masih ingat aku, katamu
Hei, siapa bilang aku melupakanmu?
Aku hanya berteriak dalam hati
Karena aku bukan kamu yang jelas nan tersurat
Tapi aku beruntung bisa mencicipi keinginan yang tak kukatakan

Aku akan pergi jauh, ceritamu
Aku tertegun
Kukira ini awal dari pertemuan berikutnya
Sekolah memang sudah akan usai
Dan kita perlu memanjat untuk pendidikan terbaik
Hati-hati, hanya itu yang bisa kukatakan
Kita berpisah, tanpa janji, tanpa ikatan

Agustus datang kembali bersama semerbak rindu
Aku menyaksikan ikrar proklamasi tanpamu
Mengikuti upacara bendera hingga akhir
Kuseruput jus di sudut bangku setelah berterik di tengah lapangan
Seseorang menepuk bahuku, kamu
Sejak itu aku yakin bahwa kita akan terus bersama di satu hari Agustus
Dan ini menyenangkan
Mengetahui bahwa kamu ditunggu seseorang untuk bertemu setahun kemudian

Kamu suka bola
Hingga Agustus berikutnya aku menemanimu menonton pertandingan di lapangan
Sorak sorai sebenarnya membuatku tak nyaman
Tapi aku bertahan demi tawamu
Kamu senang? tanyamu
Aku mengangguk

Meski ceria ternyata kamu bisa marah juga
Tidak padaku, sih
Tapi pada orang yang menjatuhkan gelas kopinya
Hingga bajuku terkena nodanya
Wajahmu merah dan itu membuatku takut
Aku harus menarik tanganmu untuk menghentikannya

Di kafe itu kamu bilang kamu suka kopi
Katamu hari tak sempurna tanpa kopi
Asal jangan lupa banyak minum air putih, nasihatku
Kamu mengangguk
Meski aku tak tahu, perbandingan kopi dan air putih yang kamu minum
Karena tak setiap bulan kau ada di sisiku

Jangan pernah mempercayakan apa pun padamu
Karena nama tengahmu adalah lupa
Di satu Agustus kamu lupa membawa buku penulis favoritku
Padahal kamu sengaja hadir di acaranya untuk dapat tanda tangannya
Dan kamu lupa membawa di satu-satunya hari kita bertemu dalam setahun
Nantilah kalau begitu kataku
Bisa dikirimkan kapan saja
Tidak, kau bilang, bukunya sudah ada di rumah. Aku akan ambil.
Tapi rumahmu jauh, aku terlalu pelit dengan waktuku saat bersamamu
Akhirnya kita berdua ke rumahmu
Berkendara satu-satu, membelah jalan raya
Di rumah, aku bertemu ibu dan adikmu
Hari itu, jumpa tahunan kita pindah tempat
Tidak lagi di lapangan upacara

Dua Agustus setelahnya kamu absen
Aku tak pantas kecewa untuk itu, meski ingin
Tugas akhir dan sebagainya lebih pantas ditempatkan sebagai prioritas
Kita pun hanya bertukar salam selamat Agustus via pesan
Rasanya wajar saja

Namun, mulai tak wajar ketika Agustus ketiga kau tak pulang
Dan malah kulihat kau bahagia ketika membagi kabar di dunia maya
Bahwa kau berhasil tiba di puncak tertinggi di Pulau Jawa bersama teman-teman dalam fotomu
Ada satu perempuan di sampingmu, tentu saja aku tak suka
Tidak hanya di satu foto, juga dalam foto-foto kemarin dan besoknya
Aku boleh cemburu?
Dulu, kamu yang bertanya padaku saat kau tahu aku berbalas pesan dengan senior laki-laki
Apakah itu sakit? Jika ya, jangan. Itu jawabku.
Sakit, tapi aku ingin tetap merasakan
Sekarang aku yang menelan ludahku sendiri

Karena aku bukan kamu maka rasa penasaran dan buruk sangka ini kusimpan saja
Sampai lama, hingga aku tak membalas pesanmu
Kamu penasaran
Dan tak menunggu Agustus untuk datang
Ada apa? tanyamu
Hingga aku malas mendengar kau mengulang pertanyaan yang sama, kujawab saja
Kau malah tertawa
Oh perempuan dan sifat anehnya, celutukmu
Lalu kau menjawab bahwa ia hanya teman
Tapi tetap saja membayangkan kamu berada di dekat perempuan lain selama 11 bulan itu menyesakkan
Dan aku hanya punya kamu satu bulan
Juga sebagai teman

Tidak, katamu
Maukah kau menjadi lebih dari sekadar teman bagiku?
Perutku mulas tiba-tiba
Tiga Agustus tak pulang dan dengarlah apa yang kamu katakan
Yang benar saja

Ternyata aku tak perlu lama meragu
Hatiku tahu apa yang ia rindu
Agustus ini kita kembali bertemu
Tidak di lapangan, tidak di stadion, tidak di kafe, atau di rumahmu
Tapi di rumahku, di depan penghulu.

Artikel Terkait

12 komentar:

Nailiya Nikmah JKF said...

Ceritanya so sweet Rindang. Untunglah hepi ending. Hehe. Btw, alangkah indah bisa hidup bersama orang yang sejalur dengan kita. 🤗

Latifika said...

Mba, ini cerpen apa kisah nyata �� speechless mau komen apa. Membayangkan jadi perempuannya. Pasti lega kuadrat habis dihempas rasa cemburu. Momen2nya terulang dibulan yang sama ya, so special month

Aswinda Utari said...

Dikira td ceritanya cinta tak sampai.. Tyt endingnya bikin gleper gleper.. Hihi.. Bagus banget kisahnya mb rindang. Dipanjangin bs jd novel.. :D

Zulaeha said...

Agustus penuh kenangan ya, Mbak? Bulan paling istimewa nih kayaknya. Dari pertemuan sampai pernikahan ada di bulan Agustus :)

Ruli Retno Mawarni said...

Aku menebak ini cerpen atau kisah nyata tapi kisah ini manis sekali. Aku senang pada apapun yang berakhir dengan pernikahan sakral

Antung apriana said...

So sweet yaa. Bagus puisinya. Semoga nungguinnya nggak selama cinta nungguin rangga. Heu

Rindang Yuliani said...

Iya Mbak Nai, aku suka cerita yang happy ending.

Rindang Yuliani said...

Antara cerpen dan kisah nyata, Mbak Fika 😊

Rindang Yuliani said...

Wkwk, bisa2. Anggap aja ini sinopsisnya. Heje

Rindang Yuliani said...

Iya, namanya juga Agustus story Mbak. hehe

Rindang Yuliani said...

Iya, pernikahan yg sakral itu manis.

Rindang Yuliani said...

Heuuu

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates