Saturday, April 14, 2018

Hari Bumi dan Kasus Lingkungan Hidup di Indonesia




Halo April, selamat datang. Selamat bulan Kartini bagi para perempuan setanah air. Selain Hari Kartini, bulan April juga memiliki peringatan hari lain berskala internasional yaitu Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Hari Bumi pada awalnya diperingati dalam rangka demonstrasi terhadap pencemaran minyak yang tumpah di laut Amerika. Jutaan orang turun ke jalan pada tanggal 22 April 1970 untuk menuntut solusi atas permasalahan lingkungan yang terjadi.


Karena aku sudah puas membahas aksi nyata untuk menyelamatkan bumi pada Earth Hour akhir Maret lalu. Jadi aku takkan mengulangnya untuk memperingati Hari Bumi ini. Kali ini aku akan mengulas beberapa kasus lingkungan hidup yang terjadi baru-baru ini di Indonesia. Sejak dulu, bahkan sebelum bekerja di bidang lingkungan aku memang tertarik dengan permasalahan lingkungan hidup. Beberapa kejadian yang berhubungan dengan lingkungan akan kubahas untuk memperingati Hari Bumi tahun 2018 ini.

Rencana Pertambangan di Hulu Sungai Tengah

Hulu Sungai Tengah (HST) adalah sebuah kabupaten di bagian hulu Provinsi Kalimantan Selatan. HST mungkin satu-satunya kabupaten yang memiliki potensi tambang, tapi tak memberikan izin operasi kepada para pelaku usaha pertambangan. Di akhir tahun 2017 lalu, HST dihebohkan dengan beredarnya salinan izin operasi tambang di wilayah HST yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM.

Tentu saja para warga murka. Sejak dulu, penduduk HST memang gigih menolak pertambangan dan perkebunan sawit. Wilayah gunung Meratus yang masuk ke dalam HST memang masih aman dari tangan ‘penjajah’. Namun, efek buruknya sudah dirasakan sejak tambang batubara ada di kabupaten sekitar HST. Ya, kabupaten hanyalah batasan administratif, sedangkan banjirnya sudah melanglang banua termasuk ke Barabai, ibukota HST.

Daerah resapan air semakin berkurang karena gunung semakin gundul dan beralih fungsi menjadi lubang-lubang raksasa penghasil emas hitam bagi pengelola dan debu abadi bagi rakyatnya. Meski hingga saat ini operasionalnya belum berjalan. Namun, pemerintah kabipaten dan penduduk HST terus siaga untuk menjaga benteng terakhir pegunungan Meratus. Di sinilah tanah kelahiranku dan keluarga besar, tentu aku pun tak ragu untuk menentangnya.

Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan

Kasus ini juga baru saja terjadi, yaitu pada tanggal 31 Maret 2018 lalu terjadi tumpahan minyak di teluk Balikpapan. Beberapa kapal nelayan terbakar di sekitar area tumpahan minyak dan menyebabkan sedikitnya lima orang tewas dalam insiden tersebut. Tumpahan yang berasal dari pipa yang bocor milik sebuah perusahaan minyak ini telah menyebabkan kerugian yang besar bagi lingkungan hidup. Paling utama, kadar minyak yang sangat tinggi di laut menyebabkan ekosistem mangrove dan terumbu karang rusak. Selain itu, seekor pesut ditemukan tewas karena tak mampu beradaptasi dengan air laut yang tercemar minyak. Belum lagi adanya risiko kanker yang mengancam keselamatan jiwa penduduk di sekitar pantai karena menghidu aroma minyak di atas batas normal atau karena mengonsumsi ikan atau hewan laut yang tercemar tumpahan minyak.

Menurut berita yang beredar, pihak yang bertanggung jawab masih terus berusaha untuk membersihkan air laut di sekitar teluk Balikpapan agar kembali bersih. Semoga setelah ini tidak ada lagi kejadian serupa karena efeknya yang sangat ekstrim bagi bumi dan penghuninya. Perusahaan yang bersangkutan juga diharapkan dapat lebih berhati-hati agar kecelakaan seperti ini dapat dicegah sebelum terjadi.

Plastick Boom di Laut Nusa Penida Bali

Pernah dengar istilah algae boom? Algae boom adalah jumlah alga yang meningkat tak terkendali di sebuah badan perairan sehingga mengganggu biota akuatik yang hidup di dalamnya. Nah, beberapa waktu yang lalu beredar sebuah video yang berisi gambaran lautan yang dipenuhi dengan plastik. Plastick boom!

Ini istilahku saja sih, tapi setidaknya menggambarkan bahwa kondisi ini sangat tidak baik bagi ekosistem laut. Jika algae boom menghalangi biota lain untuk hidup normal karena harus berebut oksigen, maka plastik efeknya lebih dari itu. Zat-zat kimia dari plastik yang sulit terurai tersebut dapat merusak ekosistem terumbu karang. Jika terumbu karang rusak, maka efek domino terhadap biota laut lain khususnya ikan dan hewan laut yang dapat dikonsumsi manusia juga berkurang. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Dalam video tersebut terlihat seorang bule sedang menyelam di laut yang penuh dengan tumpukan sampah plastik. Bali sebagai tujuan andalan wisata Indonesia tentu sebaiknya harus memberikan citra baik dalam pengelolaan lingkungan. Sayang, tidak semua orang sadar untuk melakukannya. Contohnya ya orang-orang yang membuang sampah plastik ke laut ini. Mereka pikir setelah dilarung, apa bisa langsung musnah? No!

Beruang Madu Dijadikan Daging Rendang

Dari Kepulauan Riau, kasus lingkungan hidup yang terjadi agak ngeri-ngeri sedap. Karena polisi di awal bulan April ini berhasil menangkap empat orang tersangka pelaku yang menyembelih beruang madu untuk dijadikan daging rendang! Ckck, ada-ada saja. The point is beruang madu adalah salah satu hewan yang dilindungi. Populasinya tidak banyak lagi di seluruh dunia. Seandainya tiga beruang madu yang sudah terlanjur disembelih itu dikonservasi, tentu akan dapat menyelamatkan status alert-nya sebagai hewan langka.

Namun, nasi telah menjadi bubur. Tiga hewan langka yang menggemaskan itu sudah terlanjur menjadi daging rendang. Bahkan para pelakunya pun tidak mengetahui bahwa menyembelih beruang madu adalah kejahatan lingkungan. Oleh karena itu mereka dengan entengnya mengabadikan proses penyembelihan dan mengunggahnya di media sosial. Senjata makan tuan, hal itulah yang membuat mereka diciduk aparat.

Mengapa penting untuk menyelamatkan hewan langka? Karena punahnya satu spesies akan berdampak besar pada keseimbangan ekosistem bumi. Jika perburuan liar seperti ini terus dibiarkan, lama-lama keragaman spesies akan terus berkurang dan kekacauan pada rantai makanan di alam bebas.

Well yeah itu tadi empat kasus pencemaran hidup yang kuperhatikan akhir-akhir ini. Semoga dengan adanya momen Hari Bumi pada tahun ini, siapa pun kita dapat menyadari bahwa bumi harus dijaga semaksimal mungkin agar kasus-kasus seperti di atas tidak lagi terjadi.[]


Tulisan ini diikutsertakan dalam program Blog Collaboration Female Blogger of Banjarmasin

Artikel Terkait

35 komentar:

Bunga Lompat said...

Naudzubillahi min dzaalik, betapa mengerikannya.

Saya bingung bagaimana mengomentarinya, bahkan menanggapi fakta-fakta tersebut kak. Tidak habis pikir, tidak masuk diakal, tidak masuk perasaan.

Masalah pertambangan itu, saya berada diposisi seperti kakak, sebagai rakyat biasa, jelas geram sekali. Tapi ketika saya (mencoba) untuk memposisikan diri sebagai imperium pemilik modal usaha pertambangan, wajar saja. Siapa yang tidak mau pundi-pundi nya bertambah? Kesampingkan saja warga sekitar.

Mungkin memang ilmu saya yang masih sempit, tapi pemerintah kemana sebagai wakil aspirasi rakyat? Wilayah itu punya rakyat, dengan pemimpin sebagai juru bicaranya. Kemana? Atau jangan-jangan sudah disumpal duit juga? Wallahualam.

Jadi marah-marah begini -_- yang saya sadari, mungkin memang tak sesederhana itu.

Aswinda Utari said...

Semua kasusnya bikin merinding. Dari gemes ttg kasus di HST smpe bergidik ngeri ngebayangin beruang madu disembelih. Beruanh masha yg se cute itu? Oh no!

fatimahaqila said...

Iya Mba, benar banget. Terlalu banyak isu isu lingkungan yang beredar sekarang dan biasanya tuh bikin sedih kalau liat faktanya. Kembali lagi, kalau masalah lingkungan ini sih harus kesadaran diri masing-masing ya, kembali lagi mulai dari diri sendiri. Tapi, karena enggan untuk membiasakan hal yang baik jadinya malah melakukan hal-hal kecil yang gak dipikirin dulu sebab akibatnya, hiks.

aya khairiah said...

Waduh bener" miris deh, keterlaluan itu mah 😂, jangan terlalu jahat gitu dong. Masa beruang di jadikan rendang kaya ga ada sapi dan kerbau aja 😖

Tira Soekardi said...

masih banyak yg agk peduli dg lingkungan , memang dampak gak langsung terlihat tp kelak akan mebuat bumi rusak alamnya

Nailiya Nikmah JKF said...

Beruang madu dijadikan rendang? Seram amat ya. Oiya seingatku Kalimantan dikenal sebagai paru2 dunia karena hutannya. Stop penebangan liar deh. Ekosistem harus terjaga keseimbangannya.Kalau ekosistem terganggu..jangan heran kalau manusia sendiri yang akan merasakan akibatnya.

Zulaeha said...

Tambang ya, gemas deh, uang memang besar pengaruhnya ya Mbak.

Tanah warisan keluarga besar di Barabai katanya pernah di test dan positif mengandung batubara mentah. Tapi hampir semua keluarga menentang untuk digali. Jadi akhirnya masih berbentuk hutan deh sampai sekarang, lagian masing-masing keluarga mencar keluar HST juga sih. Tanpa eksploitasi alam sebenarnya kita juga sudah 'kaya' ya Mbak. ^^

zefy said...

parah tuh oragn, masa beruang madu dijadikan rendang. Dikira beruang madu sama dengan sapi dan kerbau apa ckckkckck

Jiah said...

Serem juga karena skrg byk yg tercemar. Ya semua itu krn ulah tangan manusia. Kalau di Jepara, sampah2 di dekat pantai lumayan banyak. Ada gerakan pungut sampah. Tp ya org2nya seperti blm teredukasi jg

Natalia Bulan Retno Palupi said...

Iya sedih baca empat kejadian ini di berita-berita. Seolah-olah kok sulit sekali menjaga bumi ini, padahal ya untuk diri kita sendiri juga lho.

Dian Farida said...

Y ampun itu yang nyembelih beruang madu apa nggak tahu kalau dilindungi ya? Hiks. Kasus minyak tumpah ngeri juga ya kalau sampai pesut aja tewas.itu yang plastik bom kok bisa ya? Kukira Bali masih bersih ekosistem lautnya. Jadi sedih

Peri Hardiansyah said...

Iyap, manusia bisa memelihara, manusia juga yang bisa menghancurkan. Perlu digalakkan lagi edukasi mengenai lingkungan, dan juga perlu implementasi dari pemimpin, agar lebih maksimal.

Rindang Yuliani said...

Setuju, Mas Peri!

Rindang Yuliani said...

Iya, baca kasus2 ini bikin sedih Mbak Dian.

Rindang Yuliani said...

Benar, padahal caranya mudah saja yaitu dimulai dari diri sendiri.

Rindang Yuliani said...

Semoga para wisatawan yang ke pantai segera menyadari kalau membuang sampah sembarangan itu salah.

Rindang Yuliani said...

Edukasinya yang kurang Mbak, mereka nggak tahu kalau itu satwa yang dilindungi.

Rindang Yuliani said...

Mantap, mbak Leha. Pertahankan tanah warisan keluarganya. Kita ga perlu tambang untuk sukses.

Rindang Yuliani said...

Iya Mbak Nai, ekosistem harus seimbang. Kalau nggak, ya bencana yang akan terjadi.

Rindang Yuliani said...

Iya mbak Nai, ekoaistem harus seimbang. Kalau nggak ya bencana yang terjadi.

Rindang Yuliani said...

Iya, dampaknya gak langsung itulah yg membuat manusia terlena.

Rindang Yuliani said...

Dan yang parah mereka ga ngerti kalau beruang itu satwa yang dilindungi.

Rindang Yuliani said...

Balik ke pribadi kita berarti ya agar bumi makin terjaga. Terapkan prinsip reuse, reduce, dan recycle untuk mengurangi dampak negatif kerusakan lingkungan.

Rindang Yuliani said...

Iya, bikin jengkel kan ya baca kasus2nya.

Rindang Yuliani said...

Iya, maunya sih marah2 terus Mbak. Tapi sadar itu bukan solusi. Jadi yg bisa saya dan kita lakukan adalah menyebarkan fakta2 seperti ini agar seluruh dunia sadar akan bahaya kerusakan lingkungan.

ruziana ina said...

gemes ya melihat perusakan lingkungan
sekarang mari kita jaga lingkungan dari sekitar kita
setidaknya menjaga yang sudah ada

Farhandika Mursyid said...

Entah kok aku jadi geram aja gitu lihat berita kayak gini, di kala kita masih menggalakkan penyelamatan lingkungan di Hari Bumi, masih ada aja beberapa unsur ekosistem yang tidak dijaga, entah itu lautlah, darat maupun udara. Banyak sekali pencemaran dengan cara tertentu, sampai mengurangi populasi hewan langka juga. Lagian heran aja gitu, kok ada yang sampe kepikiran bikin daging rendang dengan beruang madu? Ga ada pilihan lain apa yak? Haduh.

Semoga dari berbagai lapisan, turut memperhatikan ini semua. Namun, yang penting, mulai juga sih dari kita juga. Dan, tentu saja, otoritas yang tinggi juga memperhatikan ini. Amin.

Tukang Jalan jajan said...

Masalah lingkungan baik flora dan fauna jadi masalah luar biasa banget ya concern tingkat tinggi. Banyak sekali konflik yang terjadi dengan manusia dan berakhir dengan penghancuran dan kerusakan. Semoga semua masalah ini ada jalan keluar ya

Dwi Ananta said...

Ahhh sedih 😢 yang kasus badak itu juga sedih loh mbak yang didokumentasikan natgeo. Tapi itu tahun lalu sih ya... Aku sampai menangis nontonnya.

Liza said...

Aku kemarin sempat nonton di tv kejadian tumpah minyak di balikpapan. Kasian banget ya mbak. Semoga semakin banyak anak negeri yang mencintai bumi indonesia ini

Rindang Yuliani said...

Aamiin, semoga anak negeri bukan hanya tambah cerdas tapi juga semakin peduli dengan lingkungan Indonesia.

Rindang Yuliani said...

Sedih memang kalau melihat kasus2 tersebut. Semoga ke depannya tidak terjadi lagi kasus2 yang seperti itu.

Rindang Yuliani said...

Aamiin, semoga ada solusinya.

Rindang Yuliani said...

Iya, kasus2 yang begini bikin geram. Demi kepentingan golongan, lingkungan yg jadi korban.

Rindang Yuliani said...

Iya, mari kita jaga dari diri kita sendiri.

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates