Monday, August 28, 2017

Tak Ada Sekolah yang Benar-benar Gratis

Di suatu Minggu pagi, aku dan suami bersantai di rumah sambil membicarakan berbagai macam hal. Tak sengaja, mata kami tertuju pada seorang anak perempuan di halaman rumah yang menyatu dengan halaman rumah tetangga. Anak tetangga itu bernama Viva dan ia terlihat sendu. Aku baru teringat dengan obrolanku dan mama beberapa hari yang lalu bahwa kalau Viva tidak dapat melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya. Padahal besoknya adalah hari pertama sekolah, masa pendaftaran murid baru sudah lama usai. Aku dan suami yang prihatin dengan keadaannya berembuk mencari cara agar bisa membantu anak tersebut.


Keesokan harinya, Senin malam, setelah pulang dari aktivitas masing-masing, kami pun berbicara kepada neneknya. Ya, Viva memang tinggal bersama neneknya. Dari penuturan mereka, Viva memang tidak bisa melanjutkan sekolah karena kendala ekonomi. Meski sebenarnya Viva masih memiliki kedua orangtua, tapi mereka sudah bercerai dan masing-masing menikah kembali dan memiliki anak lagi dari hasil pernikahan baru mereka. Mungkin pendidikan bagi anak mereka yang terdahulu bukan prioritas bagi sepasang mantan suami-istri tersebut selain mungkin juga karena alasan ekonomi.

Tidak hanya Viva yang putus sekolah, kakak laki-lakinya pun yang lebih tua satu tahun darinya juga harus melepas bangku sekolah setelah semester pertama di SMP. Alasan utama neneknya pada saat itu adalah karena tidak mampu memperbaiki sepeda yang memang setiap hari digunakan oleh Adi –kakak Viva, untuk ke sekolah. Oleh karena itu, suami menawarkan untuk membantu keduanya agar bisa bersekolah (kembali). Keduanya mengangguk senang meski terlihat ragu-ragu.

Kami pun menjelaskan kepada si nenek bahwa kami akan membantu pengurusan masuk sekolah (yang sudah sangat terlambat) dan menyediakan beberapa kebutuhan awal yang penting untuk masuk sekolah. Si nenek tinggal memberikan uang saku saja, toh kalau mereka tidak bersekolah pun uang jajan tetap keluar kan? Persyaratan kami untuk neneknya hanya satu, jika dana dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) keluar, uangnya tidak diserahkan ke neneknya tapi dikelola oleh sekolah agar kebutuhan keduanya untuk sekolah bisa dipenuhi.

Beberapa siswa yang mendapatkan dana KIP di sekolah suamiku menerapkan cara ini dan berhasil mereka tetap bisa sekolah tanpa terlalu memberatkan orangtua atau wali mereka. Semoga kasus Viva dan Adi juga bisa diselesaikan dengan solusi tersebut.  Saat SD, sebenarnya mereka juga pernah mendapatkan dana KIP. Sayang, uangnya tidak dikelola untuk kebutuhan sekolah malah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang konsumtif. Jika dana tersebut dikelola dengan baik, aku yakin mereka bisa melanjutkan sekolah tanpa kekhawatiran akan biaya karena ada dana simpanan untuk membeli alat sekolah atau bahkan biaya tak terduga seperti memperbaiki sepeda rusak.

Untuk memberi pemahaman kalau sekolah itu penting aku berujar kepada si nenek. Nenek mungkin masih bisa hidup dengan nyaman hingga berpuluh-puluh tahun kemudian sebagai orang tua, tapi apa yang akan dialami oleh Viva dan Aldi sepuluh atau 20 tahun yang akan datang? Mereka akan menjadi pemuda dan pemdi, yang jika tidak mengenyam pendidikan mungkin akan menjalani kehidupan yang berat. Well, ini tahun 2017 di mana banyak sarjana yang menganggur. Lalu, bagaimana kabarnya 20 tahun yang akan datang jika ada pemuda tamatan SD di antara para lulusan sarjana? Kemungkinan bekerja di lapangan pekerjaan yang layak akan sangat kecil. Mereka mungkin hanya akan melanjutkan hidup sebagai manusia biasa yang menikah, banting tulang, mempunyai keturunan, lalu mewariskan kemiskinan dan kebodohan yang telah terjadi kepada ayah dan ibu mereka.

Alasan utama si nenek adalah ketidakmampuan ekonomi. Aku bisa memahami mengapa nenek tersebut berpikir sesempit itu. Beliau berpendapat bahwa sekolah hanya menghabiskan uang dan waktu, lebih baik mereka bekerja atau menikah. Suamiku langsung berkata bahwa jika kita menyuruh mereka bekerja di usia sekolah seperti ini, kita akan kena undang-undang eksploitasi anak. Aku jelas tidak bisa menghakimi bagaimana pola berpikir nenek dan kedua orangtua anak ini. Setidaknya, aku sudah berusaha membantu semampunya. Kalau kata suami, kita hanya memulai, sisanya biar Allah yang bereskan.

Kebutuhan utama mereka adalah sepeda dan seragam. Untuk sepeda, kami memberi pinjaman sepeda yang sebenarnya sudah butut untuk mereka pakai ke sekolah setiap hari. Dari hasil tanya sana-sini, kami pun mendapatkan bantuan seragam sekolah dari keluarga dan teman yang sudah tidak terpakai. Alhamdulillah, sisanya tinggal membelikan beberapa warna rok, sepatu, buku, serta alat tulis. Memang tidak ada sekolah yang benar-benar gratis, meski bantuan dari pemerintah berupa dana KIP sudah ada. Setidaknya saat masuk sekolah baru seperti mereka ini, ada banyak hal yang harus dibeli sebagai modal belajar.

Singkat cerita, Viva pun didaftarkan di sebuah MTS negeri terdekat. Ia pun diterima dengan tetap mengikuti tes dan membayar biaya pendaftaran seperti siswa lainnya. Padahal saat mendaftar sudah diberi tahu kepada pihak sekolah kalau ia termasuk dalam kategori anak kurang mampu. Tapi mau bagaimana lagi, sekolah pun tak bisa menggratiskan biaya pendaftaran yang memang digunakan untuk membeli berbagai macam atribut sekolah tersebut. Sebut saja seragam olahraga, lambang (badge) untuk seragam, topi, kerudung, dan kain batik. Belum lagi biaya yang digunakan untuk menjahit baju dan memasang badge di seragam. Kata siapa sekolah benar-benar gratis?

Berbeda dengan Viva, si Adi tidak terlalu bisa diajak ‘bekerja sama’. Karena kebutuhan Viva sudah cukup menguras kantong, kami meminta Adi untuk sedikit bersabar hingga dana KIP keluar. Kami meminta ia untuk menggunakan satu sepeda dengan Viva saat berangkat ke sekolah, toh arah sekolah mereka sama. Untuk seragam katanya ia masih punya yang lama, hanya sepatu yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Kata neneknya, ada sih sepatu uwa (kakak ibu)nya dan muat di kaki si Adi. Namun, saat hari Rabu saat ia dipersilakan masuk karena sudah disetujui oleh pihak sekolah, ia tidak berangkat-berangkat juga untuk sekolah. Hingga hari ini.

Miris sebenarnya, di samping juga tidak bisa berbuat lebih jauh. Lebih tepatnya kami kurang bersemangat untuk mengusahakannya karena melihat semangat Adi untuk sekolah juga tidak sebesar Viva. Untuk menghibur diri, aku senang melihat perkembangan sekolah Viva. Sampai saat kutulis artikel ini, Viva sudah bersekolah lebih dari satu bulan (tanggal awal masuk : 17 Juli 2017). Ia adalah orang pertama di keluarganya yang bisa mengenyam pendidikan menengah pertama. Ada banyak hal yang ia ceritakan tentang sekolah barunya ketika aku menanyainya bagaimana keadaannya. Ada banyak hal pula yang menjadi kebutuhan tambahannya, seperti buku gambar, alat gambar dan warna, juz amma, atlas, LKS mata pelajaran, dll. Sekali lagi, tidak ada sekolah gratis hari ini.

Viva juga sedang semangat-semangatnya ikut ekskul pramuka yang memang diwajibkan di sekolahnya. Meski pada saat mendaftar kemarin, suamiku sudah meminta izin kepada gurunya agar ia diberi keringanan untuk tidak ikut pramuka. Karena kalau ikut pramuka artinya Viva harus menambah jam ke sekolah dan itu akan menambah beban neneknya memberi uang saku. Ternyata hingga hari ini tak ada komplain dari neneknya, jadi kami biarkan saja ia menikmati ekskul tersebut. Meski itu artinya ia membutuhkan beberapa kebutuhan baru seperti celana pramuka, topi, dan tali kor. Aku penasaran, apakah ayah ibunya tahu detail keperluan sekolah anaknya sebanyak itu?

Semoga Viva bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Juga semoga dana KIP yang memang bertujuan untuk meringankan beban siswa kurang mampu, tepat sasaran dan bisa menutupi segala kebutuhan sekolah Viva, kalau bisa hingga lulus sekolah menengah atas nanti. Aamiin.

Artikel Terkait

32 komentar:

Dian Safitri said...

aamiin
Aku terharu bacanya. Iya biaya pendidikan itu enggak ada yang benar-benar gratis. Jahit seragam dan lainnya lumayan juga.
Pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan itu masih harus terus disebarkan. Masih enggak sedikit yang merasa sekolah itu cuma jadi beban, lebih baik ikut ke ladang.

Liza Fathia said...

bagus banget programnya mbak, di kampungku dana dari KIP malah digunakan untuk mebeli TV dan kebutuhan rumah lainnya oleh ortu si anak. miris banget. kadang ada siswa yan sekolah cuma biar dapat uang bantuan

Zefy Arlinda said...

Aamiin, semoga Viva bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Ngomong-ngomong memang benar lho, sejauh ini tidak ada sekolah yang benar-benar gratis

Fandhy Achmad Romadhon said...

Sesungguhnya, Negara perlu lebuh memerhatikan pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi tiap warga negaranya, karena pendidikan begitu penting terhadap masa depan bangsa..
Dengan berpendidikan tentu saja akan menciptakan individu2 yg cerdas dan berpendidikan..

Semoga ke depannya, pendidikan di negeri ini bisa dinikmati oleh seluruh elemen masyarakat..

Rhoshandhayani KT said...

aamiin....
wuah, salut perjuangan untuk menyekolahkan viva dan adi
semoga selalu dibalas oleh Allah swt

ayah saya juga dulu pernah menyekolahkan anak yang nggak mampu. dia pengeeeen banget sekolah. akhirnya oleh kerabatnya, dikenalin ke ayahku. dia sekolah, dibiayai oleh ayah. dia tinggal di rumah, sekamar dengan saya. dia bantu2 pekerjaan di rumah. ibuku sayaaaang banget sama dia.

ketika dia lulus sma, dia malah memilih nikah. padahal ayah dan ibu siap membiayai kuliah dia, meski hanya kuliah dekat2 sini saja. minimal jadi guru, maunya orang tua saya begitu.

alhamdulillah sampai sekarang, kami tetap menjalin silaturahmi.
baru seminggu kemarin, kami mengunjunginya. membawakannya dua kotak susu untuk anak kembarnya yang baru lahir

Ruli retno said...

Aku pernah mengalami ini,saat kita menyemangati tp si anak dan keluarganya tidak support. Rasanya sedih.. Mudah2an viva adalah pengecualian hingga lulus

Mildaini said...

Memang semua butuh duit kak. Cuma y jangan mahal amat ya dan selayaknya saja. Sebab memang ukuran uang itu beda2 bagi setiap orang

April Hamsa said...

Ikut mendoakan semoga Viva kelak bisa berhasil mengangkat derajat keluarganya. Kakaknya mungkin krn pergaulan ya atau sebaliknya krn merasa anak laki2 mestinya kerja bantuin sekolah adiknya gtu barangkali ya mbk. Hehe maaf nebak2 jdnya...

Nurul Fitri Fatkhani said...

Betul Mbak .. tak ada sekolah yang benar-benar gratis. Di sekolah anak saya yang katanya gratis SPP, tetap saja, orang tua harus menyediakan biaya untuk ini-itu. Malah banyak juga pengeluarannya.

unizara dotcom said...

semoga viva bisa terus semangat sekolah
memang masih banyak anak anak di luar sana yang tidak sekolah
tp mereka keasyikan tidak sekolah atau lebih suka cari duit dengan jualan koran
sy pernah juga bantu anak yg jualan koran, belikan perlengkapan sekolahnya, eh ternyata dia tidak sekolah...sedih dan miris

Perempuan November said...

Salut buatmu dan suami mbak, semoga Viva terus semangat untuk menuntut ilmu dan dimudahkan jalannya. Sayang sekali ya sang kakak tak sesemangat Viva. Tapi seenggaknya mbak dan suami udah coba buat bantu Adi.

Oky Maulana said...

Yaampun kak, terharu bacanya :")

Dikki Cantona Putra said...

benar banget nih. memang tidak ada yang gratis sekolah ini pasti ada saja yang harus dibeli atau semacamnya.

dan sering kali dana untuk orang tak mampu salah sasaran banget kasian banget melihatnya :(

Susi Susindra said...

Semoga Viva dan Adi rajin sekolah, lulus dengan baik dan melanjutkan SMA sampai kuliah.
Sebenarnya kalau masuk ke negeri bisa beneran gratis, Mbak. Sekolah anakku juga gratis. Tapi memang biasa pendaftaran awalnya yng cukup berat. Tapi memang tuk beli seragam sih ya....
Viva dan Adi beruntung bertemu tetangga yang baik. Barakallah, Mbak, semoga kebaikan kalian berbuah hasil yang indah bagi semua

Noni Rosliyani said...

barusan aku juga bahas tentang pendidikan anak sama suami. Meskipun katanya sekolah itu gratis (khususnya SD dan SMP negeri). Tapi kenyataannya banyak juga yang tidak gratis 100% ya..

Ali Muakhir said...

Semoga dengan dana KIP sekolahnya makin lancar ya, hehe

Nova Violita said...

Bener..gak ada sekolah yg benar2 gratis.. SPP gratis..uang buku..iuran ini itu juga banyak...

Semoga Viva dapat menyelesaikan studinya..

Lendy Kurnia Reny said...

Kebayang siih..sekolah jaman sekarang yang katanya sudah didanai, tidak sepenuhnya gratis.

Tetangga aku juga ada yang kehidupan cucu nya kurang lebih seperti yang diceritakan Rindang.
Dan semua peralatan sekolah butuh biaya.
Jadi mereka mengandalkan lungsuran ((pakaian layak pakai)) dari tetangga.


Alhamdulillah,
Anaknya engga gampang minder, malu.

Ghea & Hanif said...

Semoga niatan baik mbak dan suami di balas oleh Allah dan viva bisa menikmati sekolahnya :))

Astin said...

Alhamdulillah Viva sudah dapat bersekolah lagi, semoga kebaikan mbak dan suami dibalas yg terbaik oleh-Nya. Sayang sekali ga, Aldi kurang semangat, padahal dia kan anak laki laki, semoga terbuka hati nya si aldi

esthy wika said...

Semoga langkah mbak dan suami dilancarkan dan penuh berkah ya. Hebat banget bisa menyekolahkan anak orang lain. Semoga istiqomah. Amin.

Endah Kurnia Wirawati said...

cuma bisa bantu doa semoga dilancarkan rejekinya untuk membantu viva dan yang lainnya bersekolah. :)

Dania Eriska said...

Terharu Mbak bacanya. Mungkin supaya keduanya bisa sekolah tanpa memberatkan Mbak dan suami, Mbak bisa coba masukkan cerita ini ke situs crowdfunding untuk mengumpulkan sumbangan (di website ini ada beberapa situs crowdfunding yang Mbak bisa coba https://www.techinasia.com/crowdfunding-future-indonesia-crowdfunding-sites ). Semoga dilancarkan ya Mbak.

Sissassy said...

Saya juga sudah lama ingin menjadi orang tua asuh, tapi belum kesampaian. Semoga Viva semangat terus sekolah sampai tinggi ya Mbak, dan keluarganya jadi bisa melihat bukti kalau drop out, kerja serabutan dan menikah bukan jalan keluar instan yang ideal.

Rindang Yuliani said...

Setuju!

Rindang Yuliani said...

Aamiin. Terima kasih banyak informasinya Mbak.

Rindang Yuliani said...

Terima kasih doanya Mbak Endah :)

Rindang Yuliani said...

Aamiin.

Rindang Yuliani said...

Iya, semoga banyak orangtua yang mulai sadar atas kekeliruan ini.

Rindang Yuliani said...

Ini juga kejadian di kampungku Mbak, dana KIP untuk keperluan konsumtif.

Rindang Yuliani said...

Setuju nih, aku juga berpikiran begitu setelah mengamati beberapa sistem sekolah.

Rindang Yuliani said...

Aamiin.

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates